Penyakit yang diderita Misrani tergolong langka. Janda tua asal Gumukmas ini mengidap penyakit dengan kulit sekujur tubuh berubah layaknya sisik ikan. Minimnya biaya dan kendala administratif saat pengurusan Jamkesmas jadi tambahan deritanya.
Abdul Hafid Asnan, Gumukmas
Kulit keriput janda tua 80 tahun itu nyaris tak terlihat. Mulai dari kaki hingga wajah nampak terbungkus lapisan sejenis sisik ikan. Sisik yang melapisi sekujur tubuhnya itu ada yang mengelupas dan berserakan di tempatnya berbaring.
Dengan tangan kiri yang disuntikkan selang infus, perempuan tua itu seolah pasrah menjalani perawatan intensif dari penyakit aneh yang dideritanya. Meski matanya terbuka perempuan yang bernama Misrani alias bu Mistar itu tak banyak mengeluarkan kata-kata. Sesekali hanya berucap gatal dan panas, pertanda mengeluhkan penyakitnya.
Begitulah kondisi yang terjadi pada Misrani. Warga asal RT 1 RW 5, Dusun Pentongwaru, Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas ini mengidap penyakit aneh selama dua bulan. “Ibu kena gatal-gatal awalnya, dalam dua bulan kulitnya berubah jadi sisik seperti ini,” kata Paimo sambil menunjuk lalu mengelus-elus kaki Misrani.
Kondisi yang semakin parah membuat keluarga misrani memberanikan diri membawanya berobat. Meski biaya yang dimiliki sangat minim, demi kesembuhan orang tua, segala cara dilakukan. Cara pertama ditempuh berobat ke mantri. Namun upayanya tak berhasil. Bahkan gatal-gatal dan panas sekujur tubuh misrani semakin terasa. Kulit berupa sisik banyak yang mengelupas.
Berikutnya adalah membawa Misrani untuk dirawat ke RSd Soebandi Jember. Hampir sehari Misrani dirawat. Namun Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang tak bisa diurus membuat keluarga tak sanggup membiayai perawatan. Pagi dibawa ke RSd Soebandi, sorenya langsung dibawa pulang. Keluarga memilih untuk merawat Misrani di Puskesmas Gumukmas.
Pilihan nekat itu dilakukan keluarga karena kondisi Misrani sangat parah. Setiap saat kulit sisiknya terus mengelupas dan mengeluarkan bau amis yang sangat menyengat. Sisik-sisik terus berserakan di tempatnya berbaring. “Dalam sehari kalau dikumpulkan sisiknya bisa sampek dua timba,” terang Siti Khomsiyah, Cucu Misrani yang setiap hari membersihkan sisik sebesar kepingan logam di ranjang neneknya.
Penanganan di Puskesmas Gumukmas berbuah positif. Sisik yang mengelupas dari kulitnya mulai mengering dan berkurang. Pengawasan intensif dari puskesmas setiap satu jam sekali juga membuat bau amis dari kulit Misrani berangsur berkurang. Bahkan gatal-gatal dan panas sekujur tubuh juga mulai tak drasakan.
Rupanya perawatan Misrani tak lepas dari peran Sukardi, Camat Gumukmas. Pihaknya yang mendengar informasi sulitnya Misrani dalam mendapat perawatan, segera berkoordinasi dengan muspika dan Puskesmas. Puskesmas diminta tidak mempertimbangkan besarnya biaya. “Yang penting Misrani bisa dirawat sampai sembuh. Dan perangkat desa kami tugaskan untuk mengurus Jamkesmas,” jelasnya usai menjenguk Misrani di puskesmas Gumukmas bersama anggota Kapolsek Gumukmas AKP Sukari dan anggota Muspika lainnya.
Hasilnya, selain perawatan pasien penyakit langka membaik, pengurusan Jamkesmas juga berhasil. Bahkan diketahui jika Misrani adalah warga yang terdaftar dalam Jamkesmas. Perbedaan nama pada KTP dan KK menyulitkan petugas dalam mengidentifikasi Misrani. Sehingga pemberian Jamkesmas tak langsung diberikan saat dirawat di RSd Soebandi.
Penyebab kulit Misrani berubah menjadi sisik diketahui karena alergi dan gaya hidup kurang bersih mendapat perhatian dari Camat Gumukmas ini. Sukardi menghimbau agar warga terus menjaga gaya hidup bersih. Agar tidak mudah terjangkit penyakit, termasuk penyakit aneh dan langka sekalipun.
Imbauan itu juga dibenarkan Dr. Hj. Erlina Hadi kepala Puskesmas Gumukmas. Gaya hidup bersih menurutnya sangat berperan dalam menghindarkan dari penyakit. Khusus untuk Misrani Kepala Puskesmas ini menilai penyakit Misrani jarang terjadi. Kategori penyakitnya adalah penyakit alergi kulit yang bernama penyakit Delmatitis. ”Terjangkitnya bisa kerena makanan, alergi maupun lingkungan yang kurang sehat. Jika kondisinya terlalu parah maka kulitnya bersisik karena sudah rusak,” jelas Erlina Hadi yang saat itu berada di samping Misrani bersama anggota muspika.
Sejauh ini penanganannya menggunakan obat antibiotik dan anti alergi. Pengobatannya intensif dilakukan baik dari luar yang menggunakan salep maupun dari dalam menggunakan injeksi dan pil. “Obatnya juga agak langka, tapi bersyukurlah bisa membaik. Semoga cepat pulih,” tambah Erlina dalam menangani penyakit aneh dan langka itu. Sehingga kondisi paling parah yang dialami Misrani bisa dilalui dalam beberapa hari perawatan di Puskesmas Gumukmas. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar