Selasa, 13 Desember 2011

Pacuan Kuda Diserbu Joki Luar Kota


LUMAJANG – Warga Desa Karangbendo Kecamatan Tekung diramaikan dengan acara pacuan kuda. Acara yang digelar di lapangan Karangbendo ini digelar dalam sepekan penuh. Puluhan Joki dan para pemilik kuda dari berbagai daerah di Jawa Timur berdatangan untuk ambil bagian.
Para joki dan pemilik kuda dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Malang, Surabaya  dan beberapa kota lain datang ingin beradu kecepatan kudanya. Semua peserta dari luar daerah itu turut ambil bagian dalam pacuan kuda Karangbendo.
Peserta bukan hanya dari luar daerah. Para pecinta pacuan kuda dari lingkup Lumajang dan Jember juga unjuk kebolehan kecepatan disana. Dari 14 kelas yang dilombakan, semuanya terisi penuh. “Memang antusias para pemilik kuda dan joki sangat tinggi,” kata Purwanto Sekretaris Panitia pelaksana. Kondisi ini membuat hampir para pemilik kuda dari Lumajang sendiri tak kebagian posisi.
Kejuaraan tersebut, sejatinya menjadi acara rutin setiap tahun dua kali. Bahkan jika ada momen-momen tertentu Purwanto mengatakan pacuan kuda tersebut juga digelar. Salah satunya adalah pacuan kuda yang berlangsung kemarin ini juga dalam rangka memperingati hari jadi kota Lumajang (Harjalu). Hanya saja, semua pembiayaannya ditanggung oleh pihak desa dan tidak melibatkan kabupaten.
Pacuan kuda di desa Karangbendo sudah menjadi budaya yang tidak bisa dipisahkan dari kegemaran warga. Karena jika tidak diadakan, warga banyak yang menanyakan. Apalagi para pemilik kuda yang ingin unjuk kecepatan kuda yang dimiliki. “Mereka selalu tanya kapan pacuan kuda digelar,” tambah Purwanto.
Geliat warga pada pacuan kuda ini juga didukung oleh anggota DPRD Lumajang. Bukasan anggota komisi D menjelaskan jika acara ini perlu mendapat dukungan. Karena bisa menjadi identitas desa Karangbendo yang dikenal di berbagai daerah yang ada di jawa timur. “Sangat perlu dikembangkan. Karena menjadi nama baik daerah dan menjadi budaya unik desa yang tak dimiliki desa-desa lainnya,” papar Bukasan yang juga rutin datang ke lokasi pacuan setiap hari.
Dalam pantauankoran ini, acara Pacaun kuda ini benar-benar manarik perhatian warga. Ribuan penonton dari warga sekitar berbondong-bondong menyaksikan bersama keluarganya. Kondisi itu membuat jalanan di desa Karangbendo macet sekitar 20 menit sesaat sebelum dan sesudah pacuan kuda digelar. (fid)

17 Persen Penderita HIV Ibu Rumah Tangga


Lumajang Butuh Layanan VCT
LUMAJANG – Peringatan Hari AIDS sedunia yang jatuh 1 Desember selalu mengingatkan kita kepada bahaya penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Bahkan, di Lumajang HIV sudah menyerang kepada ibu rumah tangga.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, angka kasus HIV hingga mencapai 80 orang, namun yang masih hidup tidak lebih dari 40 penderita. “17 persen penderita HIV itu adalah ibu rumah tangga,” kata Wahyu Wulandari Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Lumajang. Tentu ini sangat mengkhawatirkan, pasalnya kebanyakan ibu rumah tangga tersebut berada di rumah.
Dari prosentase umur, penderita yang paling banyak  dialami oleh warga yang berada pada usia produktif antara 15 sampai 50 tahun. Sisanya adalah kalangan pemuda yang menginjak usia 15 tahun sampai pada orang dewasa.
Merki penyakit itu menular dan berbahaya, Lumajang masih belum memiliki layanan Voluntary Conseling and Testing (VCT). Padahal layanan tersebut berguna untuk mendeteksi dan menghambat berkembangnya virus mematikan di dalam tubuh. Selain itu layanan ini berguna dalam proses pencegahan dan penyebaran infeksi. “Kita masih belum punya VCT, karena masih sulit mencari relawan HIV/AIDS.” Papar Wulan.
Memang layanan tersebut sangat dibutuhkan untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun minimnya relawan membuat layanan tersebut terkendala. Padahal berkaca pada kabupaten-kabupaten lain sudah ada layanan VCT. Untuk itu pihak masih terus mengupayakan untuk bisa memberikan layanan VCT. “Kami masih mengupayakan,” ujarnya. Diharapkan, tahun 2012 Lumajang sudah memiliki VCT sendiri.
Selain itu, tidak ada gebrakan menonjol di Lumajang dalam menyambut peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember kemarin. Namun sosialisasi bahaya Aids telah dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Sasaran utamanya adalah para pemuda dan pelajar.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Lumajang menyatakan selama ini telah menggalakkan sosialisasi bahaya Aids di hampir semua sekolah. Bahkan kalangan ibu-ibu rumah tangga dan kelompok-kelompok masyarakat juga tak luput dari incaran sosialisasi. Gunanya adalah untuk menyelamatkan dan menghindarkan dari merebaknya penyakit berbahaya tersebut.
Dia juga menjelaskan sosialisasi HIV/AIDS tak henti-hentinya dilakukan. Meskipun penyakit tersebut dapat menyerang semua umur, namun kalangan pemuda dan pelajar menjadi fokus incaran yang harus faham tentang bahaya AIDS. Sebagai generasi penerus, harus bisa menjaga dan menghindarkan diri agar terhindar dari inveksi HIV.
Saat ini jumlah penderita HIV di Lumajang sudah mengalami penurunan perkembangan. “Sekarang tidak lebih dari 40 penderita,” ujar Wulan saat ditemui di ruang kerjanya kemarin. Hal itu patut dijaga agar tidak semakin bertambah dengan cara mencanangkan dan mesosialisasikan bahaya Aids.(fid/ram)

Kisah Misrani Penderita Sisik Sekujur Tubuh

Sempat Keluarkan Sisik Dua Timba Dalam Sehari

Penyakit yang diderita Misrani tergolong langka. Janda tua asal Gumukmas ini mengidap penyakit dengan kulit sekujur tubuh berubah layaknya sisik ikan. Minimnya biaya dan kendala administratif saat pengurusan Jamkesmas jadi tambahan deritanya.

Abdul Hafid Asnan, Gumukmas

Kulit keriput janda tua 80 tahun itu nyaris tak terlihat. Mulai dari kaki hingga wajah nampak terbungkus lapisan sejenis sisik ikan. Sisik yang melapisi sekujur tubuhnya itu ada yang mengelupas dan berserakan di tempatnya berbaring.
Dengan tangan kiri yang disuntikkan selang infus, perempuan tua itu seolah pasrah menjalani perawatan intensif dari penyakit aneh yang dideritanya. Meski matanya terbuka perempuan yang bernama Misrani alias bu Mistar itu tak banyak mengeluarkan kata-kata. Sesekali hanya berucap gatal dan panas, pertanda mengeluhkan penyakitnya.
Begitulah kondisi yang terjadi pada Misrani. Warga asal RT 1 RW 5, Dusun Pentongwaru, Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas ini mengidap penyakit aneh selama dua bulan. “Ibu kena gatal-gatal awalnya, dalam dua bulan kulitnya berubah jadi sisik seperti ini,” kata Paimo sambil menunjuk lalu mengelus-elus kaki Misrani.
Kondisi yang semakin parah membuat keluarga misrani memberanikan diri membawanya berobat. Meski biaya yang dimiliki sangat minim, demi kesembuhan orang tua, segala cara dilakukan. Cara pertama ditempuh berobat ke mantri. Namun upayanya tak berhasil. Bahkan gatal-gatal dan panas sekujur tubuh misrani semakin terasa. Kulit berupa sisik banyak yang mengelupas.
Berikutnya adalah membawa Misrani untuk dirawat ke RSd Soebandi Jember.  Hampir sehari Misrani dirawat. Namun Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang tak bisa diurus membuat keluarga tak sanggup membiayai perawatan. Pagi dibawa ke RSd Soebandi, sorenya langsung dibawa pulang. Keluarga memilih untuk merawat Misrani di Puskesmas Gumukmas.
Pilihan nekat itu dilakukan keluarga karena kondisi Misrani sangat parah. Setiap saat kulit sisiknya terus mengelupas dan mengeluarkan bau amis yang sangat menyengat. Sisik-sisik terus berserakan di tempatnya berbaring. “Dalam sehari kalau dikumpulkan sisiknya bisa sampek dua timba,” terang Siti Khomsiyah, Cucu Misrani yang setiap hari membersihkan sisik sebesar kepingan logam di ranjang neneknya.
Penanganan di Puskesmas Gumukmas berbuah positif. Sisik yang mengelupas dari kulitnya mulai mengering dan berkurang. Pengawasan intensif dari puskesmas setiap satu jam sekali juga membuat bau amis dari kulit Misrani berangsur berkurang. Bahkan gatal-gatal dan panas sekujur tubuh juga mulai tak drasakan.
Rupanya perawatan Misrani tak lepas dari peran Sukardi, Camat Gumukmas. Pihaknya yang mendengar informasi sulitnya Misrani dalam mendapat perawatan, segera berkoordinasi dengan muspika dan Puskesmas. Puskesmas diminta tidak mempertimbangkan besarnya biaya. “Yang penting Misrani bisa dirawat sampai sembuh. Dan perangkat desa kami tugaskan untuk mengurus Jamkesmas,” jelasnya usai menjenguk Misrani di puskesmas Gumukmas bersama anggota Kapolsek Gumukmas AKP Sukari dan anggota Muspika lainnya.
Hasilnya, selain perawatan pasien penyakit langka membaik, pengurusan Jamkesmas juga berhasil. Bahkan diketahui jika Misrani adalah warga yang terdaftar dalam Jamkesmas. Perbedaan nama pada KTP dan KK menyulitkan petugas dalam mengidentifikasi Misrani. Sehingga pemberian Jamkesmas tak langsung diberikan saat dirawat di RSd Soebandi.
Penyebab kulit Misrani berubah menjadi sisik diketahui karena alergi dan gaya hidup kurang bersih mendapat perhatian dari Camat Gumukmas ini. Sukardi menghimbau agar warga terus menjaga gaya hidup bersih. Agar tidak mudah terjangkit penyakit, termasuk penyakit aneh dan langka sekalipun.
Imbauan itu juga dibenarkan Dr. Hj. Erlina Hadi kepala Puskesmas Gumukmas. Gaya hidup bersih menurutnya sangat berperan dalam menghindarkan dari penyakit. Khusus untuk Misrani Kepala Puskesmas ini menilai penyakit Misrani jarang terjadi. Kategori penyakitnya adalah penyakit alergi kulit yang bernama penyakit Delmatitis. ”Terjangkitnya bisa kerena makanan, alergi maupun lingkungan yang kurang sehat. Jika kondisinya terlalu parah maka kulitnya bersisik karena sudah rusak,  jelas Erlina Hadi yang saat itu berada di samping Misrani bersama anggota muspika.
Sejauh ini penanganannya menggunakan obat antibiotik dan anti alergi. Pengobatannya intensif dilakukan baik dari luar yang menggunakan salep maupun dari dalam menggunakan injeksi dan pil.Obatnya juga agak langka, tapi bersyukurlah bisa membaik. Semoga cepat pulih,” tambah Erlina dalam menangani penyakit aneh dan langka itu. Sehingga kondisi paling parah yang dialami Misrani bisa dilalui dalam beberapa hari perawatan di Puskesmas Gumukmas. (*)

Kamis, 27 Januari 2011

ganasnya laut selatan



Pol Airud Kewalahan
Sulit Evakuasi Perahu
Puger – Cuaca buruk dan ombak besar yang datang akhir-akhir ini akhirnya membuat perahu nelayan bermuatan dua ton ikan karam. Pasalnya saat hendak merapat di plawangan puger perahu milik bahari terbalik. Naasnya saat evakuasi, jajaran pengamanan setempat kewalahan.
Hingga seharian upaya evakuasi menuai hasil gagal. Mayat salah satu Anak Buah Kapal (ABK) belum bisa dievakuasi. Bahkan hingga berita ini ditulis, perahu tersebut belum bisa dibalik.
Awalnya, perahu yang hendak merapat itu tiba di plawangan sekitar 06.30 pagi kemarin. Di tempat itu mesin perahu mati dan dinamonya meledak hingga dihantam ombak lalu terbalik. “Kami sudah berupaya dengan kemampuan yang ada tapi kapal belum bisa dievakuasi," ujar Briptu Rifa’i pol airud Puger.
Pasalnya ukuran kapal yang cukup besar menyulitkan proses evakuasi. Bahkan dengan tertancapnya perahu di pasir pantai plawangan membuat kapal perahu Bahari semakin kuat memancang.
Karamnya perahu itu sejatinya direspon sigap oleh petugas keamanan laut Puger. Namun meskipun sudah dikerahkan empat perahu untuk menarik bahkan juga dengan jangkar, perahu belum bisa dievakuasi.
Dengan begitu pihaknya dibuat kewalahan dengan proses evakuasi perahu tersebut. Rencananya akan mengerahkan alat berat lainnya untuk mengevakuasi kapal perahu. “Secepatnya kami akan segera mengevakuasi,” ujarny Rifai.
Pantauan koran ini saat kejadian, Pol airud datang pada sekitar pukul 10.00 di TKP. Dua personil didatangkan salah satunya adalah Bripka Agus Riyanto. Namun kedatangan mereka berdua tidak banyak berbuat melihat kondisi parah dialami kapal perahu.
Setelah mendokumentasikan dan mencari data-data korban keduanya kembali untuk merencanakan lebih lanjut. Melihat itu pihaknya bakal mendatangkal alat berat untuk mengangkut perahu.
“Kami akan datangkan bego (eskafator.red) untuk membalikkan perahu. Untuk saat ini kami masih kesulitan,” ujarnya. Dengan demikian, hingga petang kemarin kondisi perahu masih tertancap di bibir pantai puger. Sementara satu abk diduga kuat tewas di dalam kapal perahu yang tengkurap.
Sejatinya pol airud puger sudah melakukan arahan agar nelayan tidak melaut. Namun cuaca buruk dan anjurannya tidak banyak diindahkan para nelayan. Pasalnya pihaknya tidak berkutik ketika dihadapkan pada kebutuhan dasar nelayan yakni ‘melaut cari uang untuk makan’. (fid)